Dia, sebut saja D, anak laki-laki berumur 5 tahun, sebaya dengan anak saya yang kedua. Sepintas tidak ada yang aneh dengan D ini, ceria, bermain, menangis, jajan, atau apalah segala macam dunia anak yang tiap hari melintas didepan rumah saya, karena memang si D rumahnya didepan rumah saya.
Akan tetapi suatu ketika, tanpa tedeng aling, D memuntahkan sumpah serapah yang hanya layak disebut begundal pasar yang tak sekolah! Kata-kata itu dengan fasih diucapnya kepada siapapun yang ada didepannya termasuk istri saya.
Istri saya dengan terkejut, dan setengah tak percaya berusaha menegur dan menasehati, balasannya? dengan meludah dan menulurkan lidah D berlari tertawa-tawa, masuk kerumah dengan menghempas pintu depannya. Sebuah paradoks deskripsi seorang bocah berumur berumur 5 tahun.
Pertanyaan kita, dimana D mendapat pembelajaran seperti itu?
1. Orang tua, menjadi ladang utama bagi anak menyerap segala bentuk perilaku, perkataan baik atau buruk. Tanpa perhatian dari orang tua, mustahil anak menjadi anak yang baik. Bukankah bayi itu ibarat kertas putih, kedua orang tuanyalah yang akan menggoreskan apa jadinya anak itu kelak.
2. Lingkungan, dimana dia berkembang, belajar meniru segala bentuk tingkah laku lingkungannya.
D, seperti yang kami dapati, mendapat pelajaran langsung dari lingkungannya, tempat favoritnya adalah: Warnet! Warung internet, gudang informasi, tempat berkumpul segala macam latar belakang dan kepentingan. Kini menjadi semacam ruang spiritual dalam memenuhi keinginan hati tanpa batas. Tentu saja, bagi perkembangan anak ini sangat berbahaya.
Interaksi antar segala umur, tanpa batas terjadi disini. Segalanya bisa dilihat disini, segalanya bisa didengar disini. Alangkah buruknya, ketika anak mendapat pelajaran yang tidak sesuai dengan usianya diluar jangkauan orangtuanya.
Orang tua tidak semestinya membiarkan anak-anak bergaul tanpa batas di tempat seperti Warnet. Bukan saja anak seusia D, tapi juga anak-anak usia belajar, sangat rawan ketika berusaha menjadi dewasa ditempat seperti ini. Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari dampak buruk pergaulan saat ini.
Amiin, wallahu'alam bishowab.